Sejarah Tanah Lot

Sejarah Tanah Lot – Tanah Lot sudah diketahui sebagai obyek wisata dari tahun 1970-an. hanya pada dikala itu infrastruktur penunjang yang betul-betul minim dan hanya dikunjungi oleh wisatawan lokal pada hari-hari libur lokal seperti hari liburan sekolah, hari raya Galungan, Kuningan atau pada dikala upacara di Pura Tanah Lot. Seiring berkembangnya sektor kepariwisataan Bali, dengan mengandalkan suasana Sunsetnya yang menawan Tanah Lot mengalami peningkatan pengunjung bagus dari domestik ataupun mancanegara.  Tanah Lot ialah sebuah objek wisata di Bali, Indonesia. Di sini ada dua pura yang Berlokasi di di atas batu besar. Satu Berlokasi di atas bongkahan batu dan satunya Berlokasi di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. 

berdasarkan legenda, pura ini dibangun oleh seorang brahmana yang mengembara dari Jawa. Ia ialah Danghyang Nirartha yang berhasil menguatkan kepercayaan penduduk Bali akan ajaran Hindu dan membangun Sad Kahyangan hal yang demikian pada abad ke-16. Pada dikala itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri kepada beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Ia menyanggupi dan sebelum meninggalkan Tanah Lot beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura disana. Ia juga mengubah selendangnya menjadi ular penjaga pura. Ular ini masih ada hingga sekarang dan secara ilmiah ular ini termasuk Variasi ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, warna hitam berbelang kuning dan mempunyai racun 3 kali lebih kuat dari ular cobra. Akhir dari legenda menyebutkan bahwa Bendesa Beraben ‘akhirnya’ menjadi pengikut Danghyang Nirartha.

Sejarah Tanah Lot
Sejarah Tanah Lot

Sejarah Tanah Lot 
Tanah Lot dalam bahasa Bali berarti “Tanah di tengah lautan”, kalau kita cermati posisi Pura Tanah Lot memang menjorok ke tengah laut. Pura ini berdiri di atas bongkahan batu karang, dimana alam telah membentuknya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah wujud yang betul-betul indah dan unik.  berdasarkan legenda masyarakat Bali, Tanah Lot berasal dari segumpal tanah yang dibawa oleh Putra Patih Gajahmada yang terjatuh di tepi pantai. 

Diceritakan bahwa Patih Gajahmada dari Kerajaan Majapahit memerintahkan putranya untuk mengembara. Sang Patih memberinya bekal sebuah tempayan yang berisi tanah. Sang Patih berpesan agar putranya menaburkan tanah dalam tempayan hal yang demikian sesampainya ia di sebuah daratan, niscaya tempat hal yang demikian akan menjadi kekuasaannya. Akan tetapi, sebelum hingga ke daratan tempayan hal yang demikian terjatuh dan tanahnya tumpah di tepi pantai. Tanah itulah yang kemudian menjadi Tanah Lot yang artinya tanah di tengah laut. 

Selain itu, ada pula cerita versi lain yang berkembang di masyarakat. Pada masa kerajaan majapahit di jawa timur, tersebutlah seorang bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau di hormati atas pengabdian yang betul-betul tinggi kepada raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau diketahui dalam menyebarkan ajaran agama hindu dengan nama “dharma yatra”. Di lombok beliau disebut “tuan semeru” atau guru dari semeru, nama sebuah gunung di jawa timur. 

Pada waktu beliau datang ke bali untuk menjalankan misinya pada abad ke 15, yang berkuasa pada dikala itu ialah raja dalem waturenggong yang menyambut beliau dengan betul-betul hormat. Beliau mengajarkan dan menyebarkan ajaran dharma hingga ke pelosok-pelosok pulau bali dan banyak membangun tempat-tempat suci untuk membangun dan meningkatkan kesadaran spiritual dan memperdalam ajaran-ajaran agama hindu. 

Disebutkan pada dikala beliau menjalankan “dharma yatra” di rambut siwi, beliau mengamati sinar suci dari arah tenggara dan mengikutinya hingga pada sumbernya yang ternyata ialah sebuah sumber mata air. tak jauh dari sumber mata air hal yang demikian, beliau menemukan sebuah tempat yang betul-betul indah yang disebut “gili beo” ( gili artinya batu karang, beo artinya burung) jadi itu ialah sebuah batukarang besar berbentuk burung beo. Di tempat inilah beliau membangun tempat untuk bermeditasi dan Melaksanakan pemujaan kepada dewa penguasa laut.  Beliau mulai menyebarkan ajarannya kepada penduduk setempat, yaitu yang berada di desa beraban dimana desa hal yang demikian di kepalai oleh seorang pemimpin suci yang disebut “bendesa beraban sakti”. 

Pada dikala itu penduduk desa beraban menganut monotheisme. Dalam waktu singkat, ajaran dang hyang nirartha yaitu tentang agama hindu telah membuat para penduduk mulai meninggalkan ajaran monotheisme hal yang demikian. Begitu pula beberapa kecil pengikut bendesa beraban mulai meninggalkannya, dan dia menyalahkan dang hyang nirartha atas hal hal yang demikian. Kemudian dia mengumpulkan para pengikutnya yang masih setia dan memimpin mereka untuk mengusir dang hyang nirartha dari tempat hal yang demikian. Dengan kekuatan spiritual yang dimiliki oleh dang hyang nirartha, beliau melindungi diri dari serangan bendesa beraban dengan memindahkan batukarang besar hal yang demikian tempat beliau bermeditasi ke tengah lautan dan menciptakan banyak ular dengan selendangnya di sekitar batukarang sebagai pelindung dan penjaga tempat hal yang demikian. Kemudian beliau memberi nama “ tengah lod ” yang berarti tanah di tengah lautan. 

Akhirnya bendesa beraban mengakui kesaktian dan kekuatan spritual dari dang hyang nirartha, dan dia mulai mempelajari ajaran-ajaran yang di ajarkan oleh orang suci hal yang demikian, hingga menjadi pengikut setia dan ikut menyebarkan ajaran itu kepada para penduduknya untuk bergabung mengikuti kepercayaan hal yang demikian. Sebelum pergi, beliau memberikan sebilah keris suci dan sakti yang diketahui dengan nama “ ki baru gajah ” kepada bendesa beraba. dikala ini keris hal yang demikian distanakan di puri kediri yang betul-betul dikeramatkan oleh segenap masyarakat dan diupacarai tiap hari raya kuningan dengan berjalan kaki 11 km pulang pergi menuju pura luhur pakendungan yang berlokasi 300 meter dari pura luhur tanah lot. Upacara piodalan di pura tanah lot tiap 210 hari sekali yakni pada hari “ buda wage langkir ” cocok penanggalan kalender Bali. 

Lokasi Pura Tanah Lot 
Pura Tanah Lot ini Berlokasi di Pantai Selatan Pulau Bali yaitu di wilayah kecamatan Kediri, Kabupaten Daerah Tingkat II Tabanan, yang pembangunannya erat kaitannya dengan perjalanan Danghyang Nirartha di Pulau Bali. Objek ini bisa ditempuh sekitar 45 menit dari wilayah Kuta. Di sini ada dua pura yang Berlokasi di di atas batu besar. Satu Berlokasi di atas bongkahan batu, apabila air pasang pura ini akan kelihatan dikelilingi air laut dan satunya lagi, tepatnya di sebelah utara Pura Tanah Lot terdapat sebuah pura yang Berlokasi menjorok ke laut dan di atas tebing. 

Pura Tanah Lot ini merupakan bagian dari pura Sad Kahyangan yang digunakan untuk tempat pemujaan dewa – dewa penjaga laut. Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk mengamati matahari terbenam (sunset), biasanya para tamu akan datang pada sore hari untuk mengamati mengamati keindahan matahari tenggelam. 

Keistimewaan Pura Tanah Lot 
Dimensi naturalisme mengimajinasikan bahwa eksotisme pantai Lot ialah kekayaan dan panorama yang menggambarkan betapa alam ini penuh warna dan aneka ragam. Dimensi humanisme seolah menandakan bahwa alam menginduksi manusia untuk memanjakan diri, tenggelam dalam euforia yang ditandai dengan proyek imajiner seperti mengambil foto dengan momen istimewa dan mengambil sudut pantai yang dianggap akan mewakili representasi diri dalam imaji fotografi. Di Pantai Tanah Lot ini, ketika memasuki pintu gapura, anda akan menjumpai sebuah suara muski tradisional gamelan dan nyanyian tradisional menambah lengkap bahwa Tanah ialah humanisme kreatif yang dilengkapi hidupnya kebudayaan masyarakat Tanah Lot. Sementara itu teosentrisme ialah gerak yang diisi oleh manusia yang berkehendak untuk memuja, memberi persembahan pada tuhan dan menandai proses komunikatif metafisika orang-orang Bali sekitar Pantai Lot. 

Tridimensi gerak Pantai Tanah Lot memberikan makna tersendiri karena tak berdimensi tunggal sebagaimana kalau menikmati pantai-pantai yang lain di Bali. Tridimensi ini menambah aspek kebermaknaan hidup kita dikala berkunjung ke Tanah Lot. Pantai Tanah Lot bisa saya sebut sebagai bagian dari wisata religi juga. 

Selain kita mampu mengambil sisi keindahan pemandangan pantai, gelombang laut, di situ terbangun megah sebuah Pura yang berada di atas batu karang di pinggir pantai. Untuk hingga di Pura ini, perlu untuk menyeberangi air laut. tak terlalu masuk ke laut, tetapi bila pasang, kalau kita ingin mengunjungi Pura, maka kita terpaksa sedikit menceburkan diri dan di situ disediakan pegangan tali agar penyeberangan kita menjadi aman. Di situ kita disadarkan sakramen dan ritual umat Hindu menyadarkan bahwa makna pluralisme begitu realistis. Kalau saya memaknai, bahwa perbedaan ritual dan cara-cara beribadah umat Hindu tak saya pandang sebagai pandangan yang bernada aneh, tetapi menyadarkan saya bahwa ketuhanan ialah budaya dan idealisme yang mengakar dalam kesatuan multikultural. Proyeksi keberagamaan telah ditanam manusia dalam segala diktum humanisme. Simbol-simbol diciptakan untuk menjadi media metafora dan dimaknai dalam keragaman konteks kebaikan, keburukan, keselamatan, kematian dan sebagainya. 

Keistimewaan Pantai Lot dilengkapi dengan mitologi setempat terkait dengan ular suci (holy snake). Konon ular suci Tanah Lot diyakini mempunyai sejarah antropologi mitologis yang menjadi penyangga dari ancaman kejahatan dan kerusakan. Ular suci yang ada di Pantai Lot, berdasarkan informasi. Beli Made Panji, ialah Variasi ular laut yang diketahui dengan Bungarus candidus dengan warna cincin melingkar hitam dan putih. Ular ini berdasarkan dia, ialah Variasi ular berbisa nomer ketiga dari Variasi ular berbisa di dunia, setelah ular kobra dari India, ular derik Australia. Kategorisasi ini sudah pernah diteliti oleh sebuah perguruan tinggi di Indonesia, termasuk Universitas Indonesia, UGM dan Udayana. 

Ular Suci, ini diyakini sebagai juru selamat Tanah Lot. Sebuah kisah, di dikala ada seseorang yang berniat jahat di Tanah Lot, tiba-tiba ular ini datang menghampiri pelaku yang ingin berbuat jahat. Ular suci ini menyerang orang- orang yang akan berbuat kerusakan di Tanah Lot. Keganasan ular ini terangkum sebagai juru selamat kepada ancaman kerusakan, tetapi ia jinak dan berdiam diri ketika berada di pinggir gua batu karang Pantai Lot nan eksotik. 

tiap pengunjung Pantai Lot, bahkan bisa memegang ular berbisa ini dengan tangan mereka tanpa khawatir serangan balik dari ular ini. Ular ini tak bereaksi apa-apa. Sembari ditunggui oleh pawangnya, anda bisa memegang ular suci ini. Bagi anda yang berniat memegang ini, pawang ular ini meminta uang seikhlasnya, minimal seribu rupiah sebagai buah dari keinginan kita memegang ular ini. Hingga hari ini ular suci tanah lot belum pernah menyerang para pengunjung yang ingin menyentuhnya, padahal ular ini dikategorikan sebagai Variasi ular berbisa nomer tiga di dunia. 

Kepercayaan lain yang menambah unsur mitologis kepada ular suci ialah dengan menyentuh dan mengelus-elusnya, sembari itu anda bisa berdoa agar keinginan dan permohonan yang selama ini belum terkabul atau punya hajat tertentu terkait cita-cita anda. Sebuah kisah, tergantung anda percaya atau tak, tetapi berdasarkan Made, itulah kenyataannya. Suatu kisah, ada seorang guru dari Yogyakarta yang sudah lama tak mempunyai anak, ketika datang di Tanah Lot dan mengelus ular ini, dia berdoa untuk segera di karuniai anak, maka dalam waktu beberapa tahun, guru ini pada akhirnya dikaruniani seorang anak. 

Selain itu, bila ada tanda-tanda alam atau bencana, ular laut ini menjadi pertanda dan isyarat bagi masyarakat Tanah Lot. Tanda yang bisa dikenali ialah bila masyarakat setempat mengamati ada ratu atau raja ular laut yang timbul, biasanya berwarna merah, maka kemunculan ratu ular laut ini menjadi pertanda bahwa bencana telah datang. Bagi masyarakat sekitar, mereka akan berdoa memberi persembahan kepada dewa-dewa agar diberi keselamatan. Cerita ini menambah auro mitologis semakin menguat dan semakin membuktikan kesucian yang melegitimasi sebutan holy snake.

Kepercayaan lain yang berkembang di Tanah Lot, yakni bila anda berkunjung di pantai ini, ada bisa meminta air keramat yang diyakini bisa menambah wajah anda awet muda. Anda bisa mengambil secukupnya, buat untuk mencuci muka anda, dan setelah itu berdasarkan informasi dari bapak Made, setelah hingga di rumah, silahkan mengamati wajah anda di cermin, niscaya perubahan wajah anda bisa saja kulit wajah anda akan nampak seperti kulit bayi, mulus, hilang kerutnya dan terpancar kembali muda.